[Tulisan Lama] 09 April 2017
Ibuku bukan Ibu biasa.
Bukan Ibu yang sering menelfon anaknya setiap hari, atau berkala setiap
minggu. Bahkan hampir tidak pernah, kecuali anaknya yang menelfon untuk
menanyakan sesuatu.
Bukan Ibu yang suka meluangkan waktu untuk bertanya mengenai kabar anaknya,
menjenguknya, atau memberikan petuah tentang kehidupan.
Bukan Ibu menye-menye yang
kerjanya nonton sinetron dan update gosip,
atau membicarakan keburukan tetangga.
Bukan Ibu yang secara berkala ke salon atau memakai make-up setiap hari.
Beliau adalah wanita karir yang berfikiran sangat realistis. Realistis akan
kemandiriannya sendiri. Bekerja tanpa lelah karena beliau ingin melakukannya,
karena beliau suka melakukannya. Se-ambisisus itu.
Sangat mandiri sampai rasanya bisa bertahan seorang diri. Beliau berani
tampil, berani berargumen dengan orang lain, bahkan dengan laki-laki. Namanya sering
muncul di koran sebagai orang yang kritis.
Di samping hidupnya yang penuh dengan pekerjaan, keluarga besarnya sangat
di utamakan. Simbahku dan saudara kandungnya tidak pernah absen dari
pertanyaannya. Beliau mencurahkan semua keringatnya untuk kesejahteraan Ibunya
dan keluarga besar.
Porsi kecil dari perhatiannya adalah lingkungan. Di tengah kesibukannya,
Beliau selalu menyempatkan diri untuk bersih-bersih rumah sendiri, bahkan
membersihkan mobil sendiri, mengangkat kasur, mengelap jendela, memindahkan
lemari atau meja kursi, bolak-balik menata ruangan yang kadang membosankan
interiornya. Sendiri. Mungkin hanya membangun rumah dan mengecat saja yang
tidak beliau lakukan sendiri, karena takut hasilnya berantakan. Rumah harus benar-benar
bersih karena Bapak alergi debu dan bisa batuk-batuk asma karenanya. Bahkan kalau
aku tidak menyapu dengan bersih, beliau menyapu ulang.
Itulah beliau. Itulah Ibuku. Mandiri, pekerja keras, dan selalu mencurahkan
waktunya untuk orang lain.
Porsi kecil lainnya itu adalah keluargaku, dan
lebih kecil lagi adalah aku.
Aku ngga
pernah merasa istimewa di keluarga. Keluargaku begitu, dan aku juga tidak
begitu dekat dengan Ibu. Aku melakukan semuanya sendiri. Beliau membesarkanku
untuk menjadi selalu mandiri sehingga aku tidak begitu dekat dengan siapapun,
termasuk keluargaku.
Bukan tipe keluarga harmonis yang suka video call dan bercerita akan
kesehariannya, atau apa hal menyenangkan dan hal menyebalkan yang terjadi di
hari itu, siapa teman dekat anaknya, siapa pacarnya. Tapi kita keluarga. Ya,
keluarga.
Bukan Ibu yang suka menelfon anaknya. Bahkan saat
aku pindah ke Jakarta, beliau hanya mengontrol lewat Whatsapp sesekali. Ibu sepenuhnya percaya padaku.
Ibu yang seperti itu, namun bukan berarti beliau
tidak sayang kepadaku. Semuanya terlihat dari pencapaianku. Pendidikanku,
pekerjaanku, hidupku. Semuanya adalah berkat doanya. Semuanya adalah berkat
kerja keras dari beliau. Hanya dengan doa Ibuku, anaknya menjadi dilancarkan
urusannya.
Ibu, surga untuk-Mu. Semoga berkah Allah selalu
untukmu.
Salam,
Liris
Komentar
Posting Komentar