SPO - Mata
Sediaan
topikal memiliki bioavailabilitas rendah karena cepat dieliminasi sebelum mencapai
kornea. Sistem penghantaran membutuhkan serangkaian karakteristik tertentu
sesuai dengan struktur fisiologis mata, karena mata manusia merupakan organ
yang sangat sensitif terhadap zat eksogen seperti mikroorganisme dan obat-obatan.
Hal yang
pertama dapat terjadi setelah pemberian obat di mata adalah setelah
pemberian obat terjadi kekaburan penglihatan karena sekresi air mata dan
pembilasan nasolakrimal. Pengedipan mata dan kekaburan merupakan gerak reflek
mata untuk melindungi mata dari serangan luar. Air mata secara kontinyu membilas
permukaan mata. Pembilasan ini juga adalah aktivitas dan mekanisme antiinfeksi karena
adanya kandungan lisozim dan immunoglobulin dalam kandungan air mata.
Obat yang
berikatan dengan protein dan musin akan mengilangkan sebagian dari dosis obat
yang diberikan. Kehilangan selanjutnya dapat meningkat karena hal yang bersifat
fisik. Selama pemberian obat, sebagian dari larutan obat yang diteteskan pada
kantong mata akan hilang karena mengalami pencucian. Kantong konjungtival hanya
mampu mengakomodasi sekitar 20 uL cairan tambahan saja.
Penghantaran obat secara lokal
Jika obat
tidak bertujuan untuk bagian luar mata, maka obat harus masuk ke bagian dalam
mata. Rute paling penting adalah rute korneal, namun rute nonkorneal dapat juga
berkontribusi terhadap bioavailabilitas okular. Secara skematis, kornea tersusun
dari suatu lapisan hidrofilik stroma diantara 2 lapisan hipofilik, yaitu
epitelium dan endotelium. Epitelium tersusun dari 5 sampai 6 lapisan sel,
sedangkan endotelium merupakan suatu lapisan tunggal pada bagian dalam kornea. Sifat
hidrofilik-lipofilik kornea secara jelas mengindikasikan bahwa kornea dapat
mengabsorbsi obat dengan baik dalam batas tertentu yang menunjukkan sifat baik
lipofilik maupun hidrofilik. Masalah utama dalam pengembangan obat mata ini
adalah perbandingan antara kehilangan obat seara prekorneal dengan penetrasi
korneal.
Penetrasi obat secara sistemik
Sebagian besar
obat yang digunakan secara sistemik adalah obat-obat antiinfeksi dan antiinflamasi.
Proses penetrasi ini dihalangi oleh darah dari mata, zat cair yang berada di
dalam bilik mata depan dan belakang inti mata (aquous humor) yang dihasilkan
oleh epitelium silier akan mencegah lewatnya molekul besar, protein plasma, dan
kebanyakan antibiotika. Beberapa molekul dapat disekresi dalam aquous humor
selama pembentukannya. Ada halangan antara “darah-retina” dan ada pula antara
darah dan vitreous humor yang menjadikan obat semakin sulit penetrasi karena
viskositas tinggi dari vitrous humor yang mencegah difusi obat pada bagian
posterior mata.
Sistem penghantaran
Obat Okular
1.
Ocular inserts
a. Biodegradable
è Polivinil alcohol (PVC), hidroksi propil selulosa (HPC), dan polivinil
pirolidon (PVP)
è Polimer ini nyaman karena dapat terurai dengan baik, dapat hilang
dari mata dengan sendirinya, karena dapat membentuk ikatan hydrogen dengan air.
Oleh karena itu, ketika kontak dengan air, polimer ini akan terhidrasi dan akhirnya
mengikis saat polimer larut
è Lebih efektif, lebih fleksibel dalam jenis obat dan disolusinya,
dan tidak perlu dilepaskan
b.
Nondegradable
è Polimer: polietilena, etilena vinil alcohol; Ocusert dan kontak lens
è Terkait dengan penggunaan polimer pada kontak lens
è Syarat: polimer fleksibel yang secara biologis intert,
non-allergenic, dan tidak larut dalam cairan air mata
è Integritas polimer tetap utuh, polimer bertindak sebagai reservoir
untuk melepaskan obat ke mata dan jaringan sekitarnya
è Keuntungan: menurunkan efek samping local dan toksisitas,
memperbaiki kepatuhan
è Kerugian: membutuhkan pengecekan dan penggantian secara berkala
2.
Nanopartikel
è Nanopartikel optalmil umumnya lipid, protein, polimer alami atau
sintesis seperti albumin, na alginate, kitosan, PLGA
è Nanopartikel mucoadhesif: PEG, kitosan, asam hialuronat (memperbaiki
waktu tinggal prekorneal)
è Iritasi rendah karena ukurannya yang kecil
è Pelepasan berkelanjutan, sehingga menghindari administrasi ulang
è Nanopartikel dapat dieliminasi dengan cepat dari kantong prekorneal.
3.
Liposom
è Tidak beracun, nonhemolitik, dan non-imunogenik bahkan setelah
suntikan berulang
è Biokompatibel dan biodegradable
è Biokompatibilitas sangat baik karena struktur seperti membrane sel
yang memiliki hidrofilik dan hidrofobik
è Untuk meningkatkan waktu tinggal prekorneal à memasukkan lipid bermuatan positif atau polimer mokuadhesif dalam
liposom
è Liposom kationik menunjukkan hasil yang baik dibandingkan liposom
bermuatan negatif, karena liposom bermuatan negatif mengikat muatan negatif
permukaan kornea
è Didodesil dimetil ammonium bromide, stearil amin, N-trimetil
ammonim klorida umumnya digunakan untuk fabrikasi liposom kationik
Sistem penghantaran obat melalui mata haruslah menghantarkan zat
aktif ke tempat yang tepat, mengurangi frekuensi administrasi, dan dapat dengan
mudah digunakan sendiri, tidak menginduksi rangsangan benda asing, tidak
menyebabkan kekaburan penglihatan jangka panjang, tidak memberikan rasa tidak menyenangkan,
dapat disterikan dalam skala industri, kompatibel dengan pengawet antimikroba
yang efisien, dan toksisitas.
Komentar
Posting Komentar