Tulisan Lama


Di sinilah aku, di tengah kereta yang tengah berjalan dari Purwosari–Lempuyangan, pukul 13.30 mungkin. 16 Oktober 2015.


Aku banyak menyadari berbagai macam hal. Hidup terus berjalan.

Aku... Ibu... Bapak... Pakde... Bude... Adik-adikku.

Hidup selalu berjalan... Pakde dan Bude yang sejak dulu selalu sumringah, sekarang semakin habis dimakan umur. Hampir selesai kah kehidupan mereka? Siapa yang tahu. Hanya Allah semata.

Mereka menua bersama, hidup bersama. Aku ingat bagaimana Pakde selalu mengelola masjid, ramah terhadap orang lain, berguna untuk sekitarnya. Mengajariku bridge, mengajariku motor, mengajariku doa setelah sholat. Pakde... aku kangen masa-masa itu... Aku selalu ingat saat-saat dimana aku menantikan libur lebaran dan pergi ke Solo, berjumpa dengan Pakde sekeluarga, begadang main Harvest Moon karena keluargaku tidak punya Play Station saat itu, terganggu dengan suara Pangke (monyet besar yang dulu dipelihara Pakde), takut pipis di malam hari karena lampu dimatikan, dan makan es krim super besar di tengah malam. Aku kangen dibuatkan susu oleh Bude di pagi hari, sesuatu yang jarang dilakukan oleh Ibuku. Aku suka semua suasana yang ada di rumah Pakde. Rumah yang besar, kolam ikan yang selalu dirawat, kolam lele di bawah mushola, Mushola gantung yang menyenangkan untuk sholat, Pangke yang selalu berisik, kulkas dengan berbagai jajanan di dalamnya, yang bisa aku makan setiap saat, Play Station dengan game yang banyak.

Aku selalu mendambakan rumah seperti rumah Pakde, kehidupan seperti kehidupan Pakde.

Tapi akhirnya aku menyadari, hidup terus berjalan... Rumah itu masih ada, namun suasana itu telah berlalu. Sungguh aku menyesal selama 4 tahun berada di Jogja namun jarang menengok Pakde dan Bude di Solo. Sungguh aku kangen diberikan wejangan-wejangan baik. Sungguh aku kangen kesehatan dan senyuman Pakde dan Bude. Sungguh aku ingin membalas perlakuan baik kalian padaku. Yang sekarang sudah tidak mungkin kulakukan karena kalian sudah tiada. Maafkan aku yang telah durhaka seperti ini... Al-Fatihah.

Ibu juga, selalu berfikiran visioner, mementingkan orang lain, dan menyibukkan dirinya sendiri dengan hal-hal positif. Beliau tidak perhatian akan masalah kecil, namun selalu memberikan fasilitas yang terbaik. Aku tidak pernah dekat dengan Ibu, yet we are connected... Aku sempat berkata, “tidak akan menjadi seperti Ibu” karena aku sering merasa ditelantarkan oleh Ibu. Namun, bila melihat adik-adikku sekarang, aku tahu aku masih beruntung. Aku punya sedikit lebih banyak kenangan masa kecilku dibimbing oleh Ibu. Aku akhirnya mengerti, ini adalah jalan terbaik yang telah Ibu pilih, untuk kebaikan keluarganya supaya kami memiliki kehidupan yang stabil dan lebih dari berkecukupan. Ibu dan Bapak, terima kasih untuk semua pengorbanannya. Selalu sehat, aku merindukan kalian...

Aku tahu semua berubah, dan aku tahu bagaimana sedihnya tidak dapat menerima perubahan itu. Sangat lama prosesnya, sampai aku mengerti... Kalau aku harus mengikhlaskan semuanya. Apa yang kuinginkan sekarang, belum tentu apa yang terbaik untukku. Dan sekarang bukan saatnya manja, banyak hal yang harus dicapai, banyak hal yang harus dipelajari, banyak hal yang harus disadari, banyak hal yang harus diperjuangkan. Hiduplah untuk hari ini, karena kemarin adalah pembelajaran, dan esok adalah sesuatu yang belum pasti. Semuanya akan menjadi tua, namun jalan menuju tua itu, hanya masing-masing yang bisa memutuskannya.

Salam,
Liris

Komentar

Postingan Populer