Lampung juga Punya Destinasi Wisata
Hallo! Mohon maaf lahir batin
Tahun ini merupakan tahun yang cukup sibuk untuk keluarga kami, sehingga
kami memutuskan untuk tidak mudik ke Kudus dan menghabiskan libur lebaran di
Lampung. Tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk hanya di rumah, kami
akhirnya memutuskan untuk pergi ke salah satu tempat wisata di Lampung. Tempat yang
beruntung kami kunjungi itu adalah Pantai Sari Ringgung.
Berjarak 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari pusat kota, Pantai Sari
Ringgung merupakan pantai yang terbilang baru. Belum banyak terdengar
dibandingkan pantai-pantai lain, seperti Pantai Mutun, Kelapa Rapat (Klara),
atau Pasir Putih. Perjalanan terbilang ramai lancar, dengan jalan yang hanya
dapat dilewati 2 jalur. Beberapa ruas jalan sedikit bolong, namun sepertinya
tidak sebanyak beberapa tahun sebelumnya (saya ingat perjalanan ke pantai butuh
effort lebih karena banyak jalan yang
bolong). Walaupun terdapat beberapa kekurangan, selama perjalanan kita disuguhi
pemandangan bukit, sawah, lembah, tambak, dan laut, yang pastinya memanjakan
mata. Seru kan!
Setelah mendaki gunung dan melewati lembah (lho), akhirnya sampailah kami
di Pantai Sari Ringgung. Biaya masuk Rp 80.000/mobil. Secara umum, pantai ini
seperti pantai-pantai pada umumnya. Terdapat pondokan-pondokan berjejer di
pinggir pantai, banana boat, jet ski, cafe
pinggir pantai, dan penyewaan ban. Spot-spot untuk berswafoto juga cukup
banyak. Fasilitas umum juga lengkap, seperti kamar bilas, mushola, warung kopi,
tempat oleh-oleh. Keluarga banyak menghabiskan waktu disini untuk bepiknik
bersama, naik banana boat, atau sekedar berkecipak di pantai.
Saat masuk dan mencari parkir mobil, orang-orang lokal langsung menawari
kami untuk naik kapal ke pulau. Saya sempat bertanya apa yang menarik di pulau
tersebut ke salah satu warga lokal. Dan orang itu menjawab, pulau itu baru dan
lebih sepi, sehingga lebih nyaman untuk dikunjungi. Saya sempat geli karena
terus-terusan menanyakan apalagi yang menarik selain ke-baru-an pantai yang
dibangga-banggakannya, namun tidak juga mendapat jawaban yang memuaskan.
Di pinggir pantai terdapat tulisan, “Belilah tiket penyebrangan di loket
tiket, agar terhindar dari pungli”, namun sepertinya tidak berlaku untuk
keluarga kami, karena ibu sudah bernegosiasi duluan dengan warga lokal tersebut
hehehe (jangan ditiru ya). Dia menawarkan kami untuk pergi ke Pulau Tegal Mas
dan Pasir Timbul. Kapal Rp 350.000, tiket masuk Pulau Tegal Mas Rp 30.000/orang,
tiket masuk Pasir Timbul Rp 10.000/orang. Kami akhirnya Ok dengan harga tersebut,
karena perahu yang disewa hanya untuk kami sendiri, tidak bersama penumpang
lain.
Setelah memarkir mobil, kami berjalan menuju dermaga di tengah pantai Sari
Ringgung. Dermaga ini digunakan warga lokal dan kapalnya untuk membawa
turis-turis ke pulau terdekat. Kami berada di satu perahu dengan kapten kapal warga
lokal berumur 35-an yang tadi bernegosiasi dengan Ibu –yang ternayata namanya
Rudy-, dan awaknya seorang bocah laki-laki berumur sekitar 12 tahun. Mereka berdua sangat
ramah, menjelaskan tentang pulau pulau sekitar, dan menawarkan diri untuk memfoto
kami sekeluarga.
Setelah perjalanan kira-kira 15 menit dengan kapal
bermotor, kami sampai di Pulau Tegal Mas. Saat mendarat di dermaga, kami
disambut dengan ikan-ikan kecil yang banyak sekali jumlahnya. Sangat cantik. Dari
ujung dermaga kami sudah mendengar suara gamelan yang terdengar merdu di sekitaran
pulau ini, mirip di Bali (Kata Ibu, karena saya belum pernah ke Bali hahaha).
Pulau ini ternyata sudah teratata sedemikian rupa.
Kami tiba di dermaga kayu besar dengan dekorasi yang sudah bagus, terdapat pula
bangku-bangku untuk duduk di dermaga, yang digunakan pengunjung menunggu kapal
bersandar atau sekedar menikmati suasana. Di sisi kiri terdapat loket tiket (karena
berbeda pulau kami diharuskan membayar lagi) yang sebelumnya saya bilang yaitu
Rp 30.000/orang. Di ujung dermaga terdapat patung papan surfing Pulau Tegal
Mas. Di sisi kiri dan kanan terdapat balon udara buatan yang digunakan untuk berswafoto.
Terdapat cafe untuk duduk duduk dan
menikmati es kelapa muda. Vila di sisi daratan melengkapi fasilitas pulau ini, yang
dapat digunakan sekeluarga untuk berlibur, atau pasangan baru untuk berbulan
madu. Sepertinya ada spot snorkling juga, walaupun kami ngga mencari tahu
banyak tentang hal itu (namun sebelum sampai dermaga, kami melihat beberapa
pengunjung turun dari kapalnya ke air dan mengapung-apung). Fasilitas umum
lengkap, seperti tempat bilas, mushola, dan toilet. Semua fasilitas disini
terbilang baru dan sangat bagus untuk ukuran pantai yang ada di Lampung (paling
bagus dari semua pantai yang pernah saya temui, walaupun intensitas saya ke
pantai mungkin hanya 1 pantai selama 1 tahun hehehe tapi saya sudah sering ke
pantai sejak kecil). Benar kata pemandu kami, pulau ini lebih sepi dane lebih
nyaman dibandingkan Pantai Sari Ringgung.
Setelah puas menikmati suana Pulau Tegal Mas, bocah kecil pemandu kami
berkata kalau kami ingin ke pasir timbul, sekarang lah saatnya, karena bila
terlalu sore air akan pasang dan pasirnya akan tenggelam. Akhirnya kami
melanjutkan perjalanan kami ke check
point selanjutnya. Saat naik kapal, saya melihat air begitu jernih,
sehingga rumput laut di air pun dapat terlihat jelas.
Berlanjut ke destinasi selanjutnya, kami akhirnya sampai di dermaga Pasir
Timbul. Benar-benar pasir yang ada di tengah lautan, yang mungkin hanya
berdiameter 15 meter saat saya datang, yaitu sekitar pukul 16.30. Rasanya lucu,
karena lautan di sekitar pulau itu sangat dalam (mungkin sekitar 4-5 meter). Sebelum
mencapai dermaga, mesin perahu dimatikan. Dan si bocah kecil mendayung ke arah
dermaga, sekitar 5 meter jauhnya. Saat kami turun dan naik dermaga dari kapal,
si bocah kecil juga memegangi kapal yang sandar. Sangat cekatan untuk anak seumurannya J
Kami sampai di dermaga disambut dengan ratusan ikan-ikan kecil lagi. Spot yang
terumbu karang cantik di tengah dermaga yang dapat dilihat hanya dengan mata
telanjang, tanpa perlu turun ke air, benar-benar memanjakan kami. Ikan-ikan
berkejaran kesana kemari. Ikan nemo bermain-main di sela-sela terumbu karang. Cantik
banget J
Dari dermaga menuju pasir timbul terdapat jembatan kayu yang pastinya keren
untuk berfoto. Namun tangga dari jembatan untuk turun sepertinya agak kurang
aman. Jarak anak tangga yang satu dan yang lain terlalu jauh, sehingga beberapa
anak kecil takut untuk turun. Dari jembatan juga kita bisa menyaksikan matahari
terbenam.
Dari pasir timbul kami melanjutkan perjalanan kembali ke daratan yang
sebenarnya.
Di tengah perjalanan, nahkoda mengarahkan ke arah Masjid Apung, namun
karena sudah cukup sore kami hanya melihat dari dekat.
Yap, perjalanan selesai. Sedikit catatan, kamar bilas sepertinya perlu
diberikan lebih banyak tempat, karena jumlahnya terbilang masih sedikit (hanya
2). Sedikit disayangkan, terdapat banyak sampah di pinggir-pinggir pantai. Mungkin
kita perlu lebih menekankan tanggung jawab pada sampah milik sendiri. Apabila
kita tidak yakin sampah yang kita buang disana akan diolah dengan baik, mungkin
kita dapat membawa pulang dulu sampah milik kita. Intinya adalah, mari menjaga
baik-baik apa yang sudah diberikan pada kita, karena sebenarnya semua tempat di
Indonesia itu indah dan tidak kalah dari mancanegara, asal kita mau telaten merawatnya J
Pemerintah daerah juga mungkin dapat memberikan perhatian lebih untuk
akses-akses ke destinasi wisata ini, karena ini merupakan salah satu daya tarik
wisata di Lampung. Transportasi publik ke pantai, seperti bis, juga belum ada
(atau saya yang ngga tahu, karena memang jarang yang pergi menggunakan
transportasi publik).
Komentar
Posting Komentar