6 PETUAH EMAS KEHIDUPAN (Kisah Inspiratif - 144)
selamat siang!
tulisan ini copas dari tulisan orang, saya hanya menshare. semoga bermanfaat :)
Sahabat, ada 6 hal dalam hidup ini yang harus
benar kita perhatikan dan kita jaga :
1. Ajal kita yang terus mengejar dan mendekati
kita, sudah siapkah kita menemuinya ?
2. Waktu yang terus berlalu meninggalkan kita,
amal sholeh dan karya apa yang telah ikut bersamanya ?
3. Nafsu yang terus bergelora untuk meminta
segera dipuaskan, sejauhmana kita telah berupaya mengekang dan menjinakkannya ?
4. Amanah-amanah yang telah ditipkan kepada kita,
sekuat apa upaya kita memegang dan menggunakannya untuk memberikan manfaat yang
seluas-luasnya ?
5. Waktu Sholat kita, padatnya tugas dan
kesibukan duniawi seringkali menelantarkan dan melengahkan waktu sholat kita,
padahal sholat adalah saat yang paling berharga untuk menjaga hubungan baik dan
cinta kita kepada Allah yang telah memberikan segala nikmat selama ini kepada
kita, di urutan keberapa SHOLAT menjadi prioritas perhatian kita diantara
sekian banyak urusan ?
6. Lidah yang begitu mudahnya memancarkan kata
dan kalimat yang menusuk dan melukai hati orang-orang disekitar kita,
sejauhmana usaha kita untuk menyematkan memori kata dan kalimat lembut dan indah
dalam lidah kita ?
-------------suatu ketika Imam Al-Ghazali
berkumpul dengan murid-muridnya. Beliau mengajukan beberapa pertanyaan kepada
mereka.
“Apakah yang paling dekat dengan
diri kita?”
Beragam jawaban datang dari para
muridnya. Murid pertama menjawab, “Orangtua kita.” Murid kedua menjawab, “Guru
kita.” Murid ketiga menjawab, “Teman dekat kita.” Murid keempat menjawab,
“Kerabat kita.”
Imam Al-Ghazali menanggapi
jawaban-jawaban itu dengan bijaksana, “Semua jawaban kalian benar. Tetapi, yang
kumaksud bukan itu. Sesuatu yang paling dekat dengan kita ialah kematian.”
Saking dekatnya, kematian sering
kali menghampiri seseorang dengan tiba-tiba dan tak terduga, kapan saja, dan di
mana saja. Kematian lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri. Kedatangannya
tidak bisa ditunda. Kita tidak bisa berlari menjauh darinya, dan jika ia sudah
mendekap, kita tidak bisa melepaskan diri darinya. Allah telah berjanji, Setiap
yang bernyawa pasti akan mati (Al Imrân: 185).
Imam Ghazali kembali bertanya,
“Apa yang paling jauh dari kita?”
Murid pertama menjawab, “Yang
paling jauh dari kita adalah negeri Cina.” Murid kedua menjawab, “Bulan.” Murid
ketiga menjawab, “Matahari.” Murid keempat menjawab, “Bintang-bintang.”
Imam Ghazali mendengarkan semua
jawaban tersebut. Sambil mengangguk-angguk, beliau bentutur, “Semua jawaban
kalian benar. Tetapi, menurutku, yang paling jauh dalam hidup kita adalah waktu
yang telah berlalu. Bagaimanapun kita dan apa pun kendaraan kita, kita tak
dapat mengejar dan kembali bertemu dengan waktu yang telah berlalu.”
Pukul sembilan yang kita jalani
pada hari ini bukanlah pengulangan dari jam sembilan kemarin. Hari Jumat yang
ada di hadapan kita bukanlah pengulangan dari hari Jumat kemarin. Semua yang
berlalu akan menjadi masa lalu, meski baru sedetik berlalu, dan tidak akan
pernah berulang. Dan, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya dari kita.
Oleh sebab itu, agar tidak
menyesal pada kemudian hari, kita harus menjaga hari ini, hari esok, dan
hari-hari yang akan datang dengan sebaik-baiknya.
Imam Ghazali lalu bertanya lagi,
“Apa yang paling besar di dunia ini?” Murid pertama menjawab, “Gunung.” Murid
kedua menjawab, “Matahari.” Murid ketiga menjawab, “Bumi.”
Imam Ghazali menanggapi, “Semua
jawaban kalian itu benar, tetapi menurutku, yang paling besar adalah hawa
nafsu.”
Banyak orang hebat sanggup
menghadapi Segala tantangan, sebesar apa pun itu. Tetapi tak banyak orang yang
mampu menghadapi hawa nafsu. Punya hati, mata, telinga, dan pikiran tetapi
Semuanya tunduk kepada hawa nafsu.
Bukankah Allah berfirman, Mereka
mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka
mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat kebesaran tanda-tanda
kekuasaan Allah. Mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk
mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka
lebih rendah lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (al-A’râf: 179).
Maka dari itu, kita harus
hati-hati dan senantiasa mengarahkan nafsu kita ke jalan yang baik. Jangan sampai
ia menyeret kita ke jurang neraka jahanam.
Imam Al-Ghazali kemudian
bertanya lagi, “Apa yang paling berat di dunia ini?” Murid pertama menjawab,
“Tumpukan baja.” Murid kedua menjawab, “Gulungan besi.” Murid ketiga menjawab,
“Gajah.”
Imam A1-Ghazali menimpali,
“Semua yang kalian sampaikan itu bisa saja benar tetapi yang paling berat
menurutku adalah memegang amanah.”
Oleh karena itu, banyak orang
hebat terjungkal karenanya. Mereka dipenjara gara-gara menyelewengkan amanah.
Allah menegaskan, Tumbuh-tumbuhan,
binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah menawari mereka
menjadi khalifah di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut
menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak manusia masuk ke neraka
karena gagal memegang amanah (al-Ahzab: 72).
Imam A1-Ghazali bertanya lagi,
“Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid pertama menjawab, “Yang
paling ringan di dunia ini adalah kapas.” Murid kedua menjawab, “Angin.” Murid
ketiga menjawab, “Debu.” Murid keempat menjawab, “Daun-daun kering.”
Imam Al-Ghazali menimpali,
“Semua jawaban kalian benar, tetapi menurutku yang paling ringan di dunia
adalah meninggalkan shalat.
Gara-gara pekerjaan sepele,
banyak orang gampang meninggalkan shalat. Bahkan, kita sering jumpai orang yang
tidak melakukan shalat tanpa alasan apa pun kecuali malas. Padahal, dia mengaku
muslim.
Imam Al-Ghazali bertanya lagi,
“Apa yang paling tajam di dunia ini?” Murid-murid serentak menjawab, “Pedang.”
Imam A1-Ghazali menjawab, “Itu benar, tetapi yang paling tajam di dunia adalah
lidah. Begitu tajamnya, ia mudah melukai siapa saja. Melalui lidah, manusia
dengan mudahnya menyakiti hati dan perasaan saudaranya sendiri. “
Komentar
Posting Komentar